Sunday, January 31, 2010

Life Equality II

Terkadang hal yang seperti ini memang susah untuk ditebak. Apa sih yang ada di dalam setiap pikiran manusia? g bakalan deh bisa kita tebak, kecuali mungkin dia seorang Dedy Corbuzier yg katana bs nebak pikiran orang, hehe. Entah kenapa, sesuatu yang mengganjal di dalam diri kita, seperti kekurangan kita, menjadi sesuatu yang mengganjal terus-terusan di dalam benak pikiran kita. Ini yang menjadi alasan kuat mengapa orang lain belum bisa menerima kita dengan baik, atau bahkan tidak bisa menerima kita sama sekali. 


Guys, setiap manusia itu diciptakan berbeda bukan? dan dari perbedaan-perbedaaan itulah kita bisa memulai sesuatu yang indah. Mulai dari saling menghormati sampai saling memahami satu sama lain.Tetapi pada dasarnya, sifat manusia untuk menolak atau tidak menghargai sesuatu itu pasti muncul kan? kita tidak bisa mengelak akan hal itu. It means wajar lah. Ok. Sekarang, kita lihat dulu, apa sih yang bisa menyebabkan seseorang tidak bisa menerima akan hal-hal tersebut? wah, nampaknya banyak sekali. Mulai dari Agama, Etnis, Strata Keluarga, Jenjang Pendidikan, bahkan sampai mengarah ke fisik seseorang manusia. Masya Allah. 


Kita g bisa tahu memang apa yang ada di pikiran seseorang, tetapi dengan gelagat atau perilaku orang tersebut terhadap kita, kita bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda yang di rasakan untuk kita.

Saturday, January 30, 2010

Life equality I

...
Don't Tell Me You Agree With Me
When I Saw You Kicking Dirt In My Eye
...

Still remember that part of the lyrics? ya.. itu lirik laguna Michael Jackson yg berjudul Black or White. Saat ini, aku emang sedang sedikit tergugah dan terusik untuk mendengar kata-kata tersebut. Ya, sedikit sok tahu lah, tetapi memang kenyataanna, life is hard rite? seperti halna persamaan/kesetaraan hidup umat manusia, yang sampai saat ini, mungkin belum semua, bisa memberikan jawaban atau konklusi yang tepat.

Menurutku, sampai saat ini, belum 100% masalah penyetaraan/persamaan entah itu gender atau ras, agama, atau apapun antar umat manusia berhasil dilakukan. Mungkin sebagian orang mengira, "oh aku sih, g masalah. Siapa kamu, apa kamu, n dari mana kamu." Tapi ada juga (mungkin) yang gini nih, "kamu tu siapa? emang kamu bisa? emang.. emang.." (dan masih banyak 'emang' lain yg tdk bisa diungkapkan dgn kata2, halah).

Well, kalo aku sih, aku g pernah ngebedain atau nyepelein someone, siapapun dia, darimana dia, dll. Tetapi, itu semua sih tergantung dari apa yang mereka beri ke aku dulu. Hmm, sedikit egois, tapi ini penting. Terkadang, hidup mengharuskan kita untuk mendapatkan teman baru, pekerjaan baru, dan masih banyak hal baru lainnya. 

Dari segi pertemananan, ini sangat general sekali. Apalagi aku tinggal di kota besar, yang dimana terdapat bermacam-macam manusia, mulai dari karakternya, agamanya, perilakunya, serta asal usulnya. Disitu, mau tidak mau, kita harus memulai suatu yang baru, berkenalan dan kemudian menjadi teman. Bahkan bisa menjadi sahabat. 

Tetapi, alur untuk menemukan teman yang memang sesuai dengan apa yang kita inginkan bukanlah suatu hal yang mudah. Suatu contoh, g semua teman itu bisa nerima kita, walaupun bagi kita mereka sudah bisa kita terima. Dari sini, kita sudah bisa menilai, apa sih yang membuat mereka tidak bisa menerima apa yang kita punya.

to be continued..

Friday, January 29, 2010

Arigato!!

Well, arigato!! itu kata pertama yg terlintas ketika akhirna tadi di kampus ngambil KHS. Ya Allah terima kasih, walaupun pd awalnya sempat cemas karena kepikiran kalo g bkl dpt IP diatas 3 lagi. Dan akhirnya, Yup!! 3,10. Alhamdulillah.

Tetapi setidaknya dari 20 sks yg kuambil semester kemarin, walaupun berjuang juga dengan kemalasan yang selalu mengusik telinga kanan dan kiriku, score ini cukuplah memuaskan. Ketika ada pro dan kontra di dalam kehidupan perkuliahan ini, wajarlah, serta rasa ketidaknyamanan, nampaknya semua itu tak terlalu menjadi virus utama penyebar kemalasan-kemalasanku kemarin itu. Ya, at least, utk semester ini (Sem. VI 2 more semesters!! yaaay!!) tidak lagi main2 lah. No more lazyness!!

Hanya tersisa 30an sks lagi, aku harus berjuang mencapai gelar seorang sarjana sastra. Gelar yang aku dan orangtuaku impi-impikan. Setelah itu, belum tahu harus kemana. Yang pasti konsentrasi untuk mencari modal kerja dan usaha. Atau mungkin pulang ke Pangkalan Bun, dan membuat suatu hal baru disana atau.. ah masih banyak mimpi-mimpiku yang tertunda dan harus diselesaikan. Yang pasti semua ini berkat usaha, do'a serta bimbingan kedua orang tuaku yang sangat aku cintai dan sayangi di muka bumi ini. Allah Swt. yang selalu menjadi pemacuku untuk menjalani hidup ini dengan benar (semoga selalu benar dan lurus, amiiin). Semua teman yang telah mendukungku atas semua pilihan-pilihanku. Aku yakin, 2011 aku sudah bergelar Sarjana Sastra!! itu harus!! Terima kasih semua, arigato!!

Tuesday, January 19, 2010

Kisah Seorang Jendral Adolf Roberto

Baik buat renungan

----------------------------

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ
terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang
terkenal bengis,tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo
penjara' itu berlalu dihadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu
'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di
wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang
mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

" Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto
sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.

Namun apa yang terjadi ? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja
bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara
itu menghampiri kamar tahanan yang lasnya tak lebih sekadar cukup untuk
satu orang.

Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang
keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut
wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang
menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang
pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata
Rabbi, waana'abduka...

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil
berkata,

" Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga ."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz olehsesama tahanan,
'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan
pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu
keras-keras hingga terjerembab di lantai.

" Hai orangtua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu
itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah
orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan
bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan
'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini."
Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta
maaf dan masuk agama kami."

Mendengar"khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala,menatap Roberto
dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap,

" Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat
menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada
dipuncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya,patutkah aku berlutut
kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku
termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat
diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung.Kemudian jatuh terkapar di lantai
penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju
penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'.

Adolf Roberto bermaksud memungutnya

Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan
menggenggamnya erat-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto.

"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh
barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.
Tak ada jalan lain,akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk
mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak
jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang
yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi
Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak
tulang yang terputus.

Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat
tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang
membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah
lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

" Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku
pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh
tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan " aneh"
dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda
tanya yang dalam.Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras
mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.Perlahan,
sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu
teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan
besar dinegeri tempat kelahirannya ini.

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan dilapangan Inkuisisi
(lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu
tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa
berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa puluh
wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang
tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang,
membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup
pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang
dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu
masih berdiri tegak dilapangan Inkuisisi yang telah senyap.
korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu
mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang
gantungan.

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah
bernyawa, sembari menggayutinya.Sang bocah berkata dengan suara parau,

" Ummi, ummi,mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah
berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....?
Ummi, cepat pulang kerumah ummi..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua
menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat
apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah
ituberteriak memanggil bapaknya

" Abi...Abi...Abi..."

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat
kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

" Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati
sang bocah.

" Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon
belas kasih.

" Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!"bentak salah seorang dari
mereka.

" Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.

Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.
" Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.
Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ' Adolf
Roberto ' .. Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau
kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki
itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak
laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya
keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama
mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Sang Jendral itu melompat
ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat
pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu.
Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,

" Abi...Abi...Abi..."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya
terus bergelut dengan masa lalunya.Ia masih ingat betul, bahwa buku
kecil yang ada didalam genggamannya adalah Kitab Suci Al Qur'an milik
bapaknya,yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak
menidurkannya.

Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar.
Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan
lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama
ini.Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu
dengan spontan menyebut,

" Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..."

Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang
membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat
seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

" Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku
pada jalan itu..."

Terdengar suara Jendral Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur
nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Airmatanya pun
turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian,
ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini.
Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran ALlah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap :

" Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan
saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail
Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,"

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan
berbekal kalimah indah

"Asyahaduanla Illaaha ilallah, wa asyahadu anna MuhammadRasullullah...'.

Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian
lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya
dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa
muda sempat disandangnya.

Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... Al-Ustadz
Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah...

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut arahnya itu. Tidak
ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS>30:30)
Source : http://www.freelists.org/post/polines/Antara-Alquran-Dan-Sang-Jendral-Adolf-Roberto
inspired from Kaskus, The Largest Indonesian Community

Friday, January 08, 2010

Memoar Jaman SD

1. Selama 6 tahun jadi anak SD, g pernah ngerasain ranking 1. Paling tinggi dapet ranking 3 wkt pas kelas 3 SD kl g salah.. :p


2. Sering banget ikut lomba-lomba, mli dari lomba nyanyi di radio (waktu itu bulan Ramadhan, nyanyi lagu-laguna Haddad Alwi & Sulis, tp g menang T.T), lomba baca do'a (lupa dpt juara brp, tp msh ada fotona pas pembagian hadiah), lomba Azan (juara 1), lomba narisepakbola juga juara 1 se kelurahan. hihihihi.. (bareng Kiki, Enod, Anto ma Dimas) juara 1 woy trs apalagi ya?? oiya, 


 
3. Pernah pulang sekolah jalan kaki sampe rumah, pdhl jarak lumayan jauh (sekitar 5km) jauh g sih 5km ntu?? hihihi..

4. Pernah punya geng jg, gara2 pada demen sma Sheila On 7, geng kita akhirna terdiri dari 5 cwo jg, yg org2na adalah aku, Tata (where r u now, dude?), Yudis, Ryan, n Ade Shofwan. FYI, si Ade ma Ryan ini sodaraan.

5. Waktu jaman SD, sering bgt tuh nabung.. smp ratusan ribu duitna.. wow..

6. Demen banget maen bola (sampe skrg jg). Istirahat jam pertama, kedua, bahkan pas les pun ttp maen bola. Hidup Bola mah!! :)

7. Pelajaran favorit? lebih ke IPS (demen yg bagian peta buta ntu.. negara di Asia Timur apa, Asia Tengah apa.. pasti lgsg dijawab dgn benar pastina.. :p) 

8. Sebel bgt ma yg namana Matematika. Pernah waktu SD nangis gara2 g bisa ngerjain soal-soal matematika, utg bu guru (Bu Paris kl g slh) bantuin tuh smp selesai.. hiks hiks.. 

9. Kalo pas upacara bendera, pasti dapet jatah mimpin lagu (konduktor bukan sih sebutanna??), baca do'a, ma baca UUD '45. Berkutat di situ-situ aja. :p

10. Hobi banget beli cireng ma pentol bakso, sampe skrg jg masih. :)

11. Sunat pas kelas 5 SD (naik kelas 6 kl g slh). Dapat duit banyak pastinya, mpe pernah pgn buat beli PS, tp g jadi trus malah dibeliin VCD. Ujung2na buat karaokean juga. :D

12. Waktu SD g pernah diajarin Bhs. Inggris, tp waktu kls 2 gt pernah ikutan les bareng kakak, di Lingga Junior (Sekarang rmh H. Ruslan). Sampe skrg msh igt, kalo dulu pas les pasti bw sangu teh kotak ma jajanan warung gt, pulangna mampir tempat tanteku yg rmhna g bgt jauh dr t4 les.

13. SD kelas 4 sdh mli kenal dengan band. Band pertama yg kukenal Sheila On 7, dan langsung beli kasetna. Belina di Popeye Jogjakarta, waktu pas nganterin kakak balik ke Jogjaponpes. buat nerusin sekolah di Jogja.


14. G pernah nonton n suka yg namanya Amigos (film remaja jadul) n film2 telenovela. Lebih suka ke film Indonesia ky Saur Sepuh, Wiro Sableng, Tersanjung (lho??) dll. Kalo kartun baru suka. Dulu favoritku Doraemon, Ninja Hatori, Dragon Ball, Mojacko dll.



15. Jajanan favoritku soto Pak Burhan, trus beli roti meses gitu di warung Pak Burhan jg, tic tac, wafer superman (smp skrg), anak mas, mie remes, permen rokok2an, permen siul (bisa buat siul gt),mentos, top, wuaah banyak. 


16. Pulang sekolah di jemput ma bpk n ibu naek motor, dgn bawa belanjaan yg cukup banyak. Kangen bgt masa2 sprti ini.. ;)


17. Mulai dari sinilah kenal tabloid kaya Fantasi, kalo Bobo mah udah dari jaman TK.


18. Seneng bgt dgn lagu2na So7, Dewa 19, Caffeine, trs udah mli nonton2 sinetron drama cinta yg opening n endingna pake lagu2 mereka.


19. Perpisahan jaman SD waktu ntu ke Pantai Kubu, naek bis. Sumpah rame beneer. Udah berasa kata anak2 SMA aja. Padahal jg masih piyik2. :p

20. Pas perpisahan s4 perform drama. Tapi g da bahan pembicaraan (cuma jd pameo doang.. aseeem). Jadi pameo gara2 dulu g pernah ikutan latihan, soalna rumah jauh, g pernah bs utk datang, kalopun datang udah pada bubar.

21. Duit jajan mli dari Rp. 100 mpe Rp. 3.000. Waktu SD kelas 1 Rp. 100, SD kelas 2 Rp. 200, kelas 3 Rp. 300. Tapi pas kelas 3, ma Ibu dikasih uang Rp. 500. Wuah, udah seneng bgt. Terus berlanjut ke 1.000, 2.000, 3.000.

26. Tambahan tontonan wajib jaman SD selain kartun cm acara2 musik anak-anak yg kaya Dunia Anak di SCTV ntu, trs apa ya?? kyna jaman dulu anak2 puas bgt deh dapat hiburan, g kaya sekarang.

27. Sahabat sejati dari SD (malah dari jaman belon lahir kyna) cm si Sendy. Dari TK ngintil terus ma aku, mpe SMP. Tapi pas SD pindah rumah, jd agak renggang gt lah pertemuanna. Cuma sebatas ketemu aja. Mulai kuliah di Jogja baru kita kembali bersama. Siap menggila lagi. Hahay.